Selamat datang para pengunjung yang baik. situs ini menyediakan berbagai informasi seputar dunia bisnis, manajemen, pendidikan dll. terimah kasih atas kesediaannya berkomentar dibawah postingan ini... :)

Minggu, 01 Juli 2012

APA YANG MEMPENGARUHI PERENCANAAN KEUANGAN ANDA?


APA YANG MEMPENGARUHI PERENCANAAN KEUANGAN ANDA?
Keuangan Individu
Di dalam bidang-bidang studi mengenai keuangan pada umumnya, jarang ditemukan pembahasan yang khusus mengenai keuangan pribadi. Sepanjang saya mengajar di kelas, topik yang biasanya menarik bagi mahasiswa jurusan keuangan adalah bagaimana membuat keputusan-keputusan bagi suatu perusahaan, bagaimana melakukan investasi yang baik yang berisiko tinggi namun menghasilkan yield yang tinggi pula, serta bagaimana anggaran yang optimal ketika terjadi adanya konflik kepentingan antara si pengambil keputusan (manajer) dengan pemilik uang (shareholders).
Mungkin jarang terpikir oleh para mahasiswa bahwa keuangan individu memiliki nuansa yang sedikit berbeda dan unik untuk diteliti. Keputusan keuangan individu lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang kurang dikenal di dalam model-model keuangan perusahaan, yaitu faktor-faktor psikologis dan sosial. Padahal, semua keputusan keuangan perusahaan pun dihadapi oleh seseorang sebagai individu.
Contoh paling praktis adalah bayangkan seorang ibu yang harus menghidupi keluarganya untuk berjualan kue. Ibu tersebut harus melakukan keputusan dalam menganggarkan uangnya yang terbatas untuk makan sehari-hari, pendidikan anaknya, dan dana yang tiba-tiba dibutuhkannya bila anak-anaknya sakit. Di dalam keuangan perusahaan, ini disebut dengan penganggaran modal.
Ibu yang sama harus berjualan kue. Artinya ia menghadapi suatu keputusan untuk berinvestasi. Setiap hari ia harus membeli bahan-bahan kue seperti tepung, gula, dan telur. Berapa jumlah maksimal yang harus ia keluarkan untuk membeli bahan-bahan ini dengan mempertimbangkan laba yang akan ia peroleh. Ia pun harus menghitung dengan tepat berapa harga yang perlu ditawarkannya supaya kuenya laku. Ia juga harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan menyebabkan kuenya tidak laku. Para manajer keuangan menyebut ini sebagai investasi dan kebijakan harga.
Satu contoh lagi adalah ibu tersebut membutuhkan uang untuk meningkatkan penjualannya. Mungkin kendala yang ia hadapi adalah biaya pendidikan sekolah anaknya yang makin tinggi membuat jumlah kue yang dihasilkannya tiap hari tidak cukup lagi. Maka ia harus memilih beberapa alternatif seperti meminjam uang modal kepada saudara atau teman, meminjam uang ke bank-bank konvensional, atau mengharapkan modal dari bank syariah. Keputusan kredit ini juga merupakan satu bahasan yang sangat menarik di bidang keuangan perusahaan.
Lalu apa yang membuatnya menarik? Keuangan perusahaan dikelola oleh seorang manajer keuangan yang kerjanya adalah memelototi angka-angka dan memberikan pertimbangan-pertimbangan. Manajer keuangan tidak dihadapkan kepada hal-hal pemasaran yang dapat membuat asumsi-asumsi keuangan yang telah dibuatnya menjadi tidak berguna lagi. Manajer keuangan yang telah mengasumsikan bahwa penjualan tahun ini adalah 300.000 unit tidak bertanggungjawab ketika manajer pemasaran mengaku bahwa akibat adanya bencana alam, penjualan maksimal yang dapat diharapkan adalah 250.000 unit saja.
Manajer keuangan juga hanya menetapkan bahwa untuk memperoleh laba sekian, maka manajer bagian pembelian harus menekan harga pembeliannya sebanyak 25%. Ia tidak bertanggungjawab tentang bagaimana manajer pembelian melakukan hal tersebut, bagaimana manajer pembelian terpaksa memutuskan kontrak dengan supplier lama dan terpercayanya untuk memenuhi asumsi-asumsi keuangan yang telah ditetapkan.
Padahal, hal-hal seperti ini harus dihadapi oleh si ibu penjual kue. Bayangkan bila ia menetapkan bahwa harga pembeliannya harus diturunkan 25%. Bagaimana ibu tersebut harus mengatakan hal ini kepada kawan lamanya di pasar untuk menurunkan harganya? Bagaimana kawan lamanya itu akan memberitahu kepada penjual-penjual lainnya supaya tidak menjual bahan-bahan kue kepada si ibu?
Manusia Rasional vs. Manusia Psikologis
Di setiap ilmu ekonomi, termasuk ilmu keuangan, satu asumsi yang sangat sering didengung-dengungkan adalah asumsi bahwa manusia ekonomi/keuangan adalah manusia yang rasional. Semua tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan yang diambilnya didasarkan kepada berbagai pertimbangan yang rasional. Sebagai contoh, apabila seorang ibu rumah tangga akan membeli sekantung kue, maka ia akan membandingkan harga dan kualitas saja. Kue dengan harga terendah dengan kualitas terbaiklah yang akan dibelinya. Ibu tersebut sebagai pelaku ekonomi yang rasional akan mengabaikan pertimbangan bahwa salah seorang penjual kue tersebut adalah adik kandungnya atau teman baiknya.
Berbekal asumsi tersebut, maka berbagai model keputusan keuangan telah disodorkan oleh para akademisi. Salah satu yang paling menonjol adalah teori utilitas, yaitu setiap individu akan berusaha memaksimalkan utilitas (kepuasan) yang diperolehnya dengan cara yang sama dan hanya terbatas kepada anggaran yang dimilikinya. Secara lebih luas lagi, seluruh kegiatan bermasyarakat dan bernegara harus ditujukan kepada kepuasan maksimal dari semua individu anggota masyarakat dan negara tersebut.
Kemudian teori ini berevolusi dengan menyatakan bahwa kepuasan yang dirasakan atas suatu materi (misalnya secangkir kopi) berbeda antara individu dan individu lainnya. Dari kesadaran ini muncullah teori-teori yang mulai memperkenalkan perilaku individu yang berbeda-beda ke dasar asumsinya. Salah satu teori tersebut adalah Teori Sentimen Moral (Moral Sentiment Theory) dari Adam Smith.
Adam Smith menyatakan bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu tidak hanya didasarkan kepada motif-motif ekonomis semata – yang mana menjadikan individu tersebut manusia rasional -, namun juga memiliki motif-motif moral seperti kasih sayang, iri hati, sentimen, rasa iba, dan sebagainya.
Teori yang juga berdampingan dengan Teori Sentimen Moral adalah Teori Prospek (Prospect Theory) yang ditemukan oleh Kahneman dan Tversky. Mereka menemukan bahwa individu memiliki kecenderungan perilaku yang berbeda terhadap kemungkinan rugi dan kemungkinan untung. Sebagai contoh, seorang individu diminta untuk memilih dua alternatif. Alternatif pertama adalah individu akan mendapat Rp 1 juta secara pasti. Alternatif kedua adalah individu memiliki probabilitas 50% untuk mendapatkan Rp 2,5 juta. Sebagian besar responden akan memilih alternatif A, padahal secara matematis, yang akan diperoleh responden dari memilih alternatif B adalah Rp 1.250.000 (lebih besar daripada Rp 1 juta pada alternatif A.).
Lebih lanjut, individu kembali disuruh memilih 2 alternatif, di mana alternatif A mengakibatkan kerugian pasti sebesar Rp 1 juta dan alternatif B memberikan kemungkinan 50% individu mengalami rugi sebesari Rp 2,5 juta. Responden cenderung memilih alternatif B, di mana sebenarnya secara matematis responden akan mengalami kerugian lebih besar. Akan tetapi di dalam alam bawah sadar, ada harapan bahwa ketika alternatif B yang dipilih, terdapat kemungkinan 50% mereka tidak mengalami kerugian sama sekali.
Lebih lanjut, Thaler menemukan teori Winner’s Curse yang terjadi apabila semua individu yang terlibat atau sebagian individu yang terlibat tidak rasional. Bayangkan suatu situasi di mana semua individu berkompetisi untuk memperoleh sesuatu yang memiliki suatu nilai, namun nilai aktualnya itu sendiri tidak diketahui oleh para individu yang terlibat. Beberapa individu akan menawar terlalu rendah, dan yang lainnya menawar terlalu tinggi. Akhirnya tawaran tersebut akan jatuh kepada penawar yang paling tinggi, sementara nilai barang itu sendiri kemungkinan kurang daripada nilai tawaran tersebut. Inilah yang disebut kerugian yang harus diderita oleh si pemenang (Winner’s Curse). Apabila semua individu yang terlibat rasional, maka jumlah tawaran tidak akan jauh berbeda daripada nilai aktualnya, sehingga si pemenang tidak mengalami kerugian terlalu besar.
Dengan banyaknya bukti yang menunjukkan bahwa manusia tidak rasional, maka tulisan ini difokuskan untuk menjabarkan beberapa faktor non ekonomis yang dapat mempengaruhi suatu keputusan keuangan pribadi.
Pertimbangan-pertimbangan dalam Keputusan Keuangan Pribadi
Di bawah ini akan dijabarkan mengenai pelbagai teori yang menerangkan apa saja faktor-faktor yang akan dipertimbangkan, serta bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi seorang individu ketika melakukan keputusan keuangan pribadi.
• Game Theory
Game Theory pertama kali dinyatakan oleh John Nash – si pemenang Nobel yang menderita Schizophrenia. Teori ini menyatakan bahwa keputusan yang dilakukan individu itu tergantung kepada ”permainan berkelompok” yang sedang dimainkannya bersama orang lain.
Contoh klasik teori ini adalah dua penjahat yang melakukan kejahatan secara bersama-sama – misalnya merampok bank – dan tertangkap lalu diinterogasi secara terpisah. Masing-masing penjahat diberikan pilihan untuk mengakui perbuatannya dengan janji keringanan hukuman bagi yang mengaku dan hukuman yang lebih berat bagi yang tidak mengaku. Ada 3 (tiga) skenario yang mungkin terjadi di dalam situasi ini, yaitu:
  1. Kedua penjahat berkoordinasi dengan baik dan tidak mengaku. Hasilnya menguntungkan bagi kedua penjahat, yaitu lepas dari hukuman.
  2. Salah satu penjahat mengaku dan mendapat keringanan hukuman, sementara yang lainnya mendapat hukuman yang berat/ setimpal
  3. Kedua penjahat mengaku dan hasilnya merugikan bagi keduanya, yaitu keduanya sama-sama dihukum berat (tidak ada yang mendapat keringanan hukuman karena polisi mendapatkan pengakuan dari keduanya)
Teori ini meng-ekplanasi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan keuangan kita, yaitu kebutuhan untuk berkoordinasi dengan orang lain atau kelompoknya. Bayangkan situasi di mana Anda harus memutuskan untuk membayar “iuran terlambat datang” yang baru saja dikeluarkan oleh Kepala Sekolah dan sedang didemo oleh seluruh teman-teman sekolah Anda. Tidak membayar pajak berarti Anda tidak menaati peraturan yang dikeluarkan kepala sekolah. Sebaliknya bila Anda membayarkan pajak itu, maka Anda tidak bertenggangrasa dengan teman-tema Anda dan akan mendapatkan hukuman sosial, misalnya dikucilkan. Efek samping lainnya adalah pembayaran pajak Anda dapat dijadikan simbol oleh Kepala Sekolah bahwa memang iuran tersebut memang pantas dan protes para demonstran akan diabaikan sama sekali. Sisi positifnya, apabila Pak Kepala Sekolah akhirnya mengambil tindakan tegas dengan memberikan penalti kepada para demonstran, Anda akan terlepas dari hukuman tersebut.
Jadi keputusan keuangan Anda akan dipengaruhi oleh strategi Anda untuk berkoordinasi dengan orang-orang lain di sekitar Anda. Anda akan mempertimbangkan bagaimana reaksi orang lain dalam menghadapi situasi yang sama, dan keuntungan yang didapat apabila Anda melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
• The Ultimatum Game
Rubenstein – si penemu permainan ini – menyatakan teorinya bahwa di dalam situasi tawar menawar terdapat faktor-faktor non-rasional misalnya kekhawatiran bahwa pihak lain akan memiliki perspektif yang berbeda karena nilai yang ditawarkan pihak pertama.
Bayangkan suatu situasi di mana Anda telah ditemani berjalan-jalan oleh salah seorang teman dari teman Anda yang praktis Anda tidak kenal sebelumnya. Pemandu Anda tersebut telah mengambil cuti satu harian khusus untuk menemani Anda, dan Anda merasa Anda ingin memberikan sesuatu sebagai imbalan itikad baiknya. Apa yang akan Anda lakukan? Bila Anda memberikannya uang, berapa jumlahnya? Bila jumlah yang Anda tawarkan terlalu besar, Anda khawatir ia akan sakit hati karena mungkin menurutnya ia menemani Anda karena memang ia ingin. Kalau jumlahnya terlalu kecil, Anda khawatir Anda dinilai pelit olehnya. Padahal bila keduanya bersikap rasional, Anda tinggal menanyakan berapa jumlah yang diinginkan olehnya.
Eksperimen yang dilakukan oleh Güth, Schmittberger dan Schwarze mengenai topik ini telah disimpulkan demikian: manusia takut akan hukuman – baik hukuman secara ekonomis maupun sosial – yang mungkin akan diperolehnya apabila ia memberikan ultimatum tertentu yang kurang sesuai kepada pihak lain.
• Greed or Fear
Banyak keputusan keuangan didasarkan kepada kecenderungan untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya (greed) atau kekhawatiran akan mengalami kerugian yang besar (fear). Suatu eksperimen dilakukan pada kelompok yang terdiri dari 10 orang. Fasilitator membagikan $5 kepada masing-masing peserta. Aturan mainnya ditetapkan sebagai berikut: Suatu jumlah uang tertentu harus dikumpulkan (katakanlah $ 30). Bila kelompok tersebut berhasil mengumpulkan uang sejumlah tersebut, maka setiap orang akan mendapatkan masing-masing $10 tambahan. Artinya, orang yang memberikan uangnya akan pulang dengan $10, dan orang yang tidak memberikan uangnya (free rider) akan pulang dengan $15 ($10 + $5 awal). Apabila jumlah $30 tidak terkumpul, maka orang yang telah membayarkan uang pulang dengan tangan kosong, sementara yang tidak membayar, pulang dengan $5. Peserta tidak boleh berkomunikasi dengan sesamanya.
Peneliti pada eksperimen ini menyatakan bahwa ada 2 (dua) motif yang muncul ketika seorang peserta tidak membayar (berkontribusi). Yang pertama adalah kekhawatiran (fear) bahwa tidak cukup banyak orang yang membayar sehingga ia akan pulang dengan tangan kosong. Yang kedua adalah keserakahan (greed), di mana peserta tersebut berhadap ada cukup banyak orang lain yang berkontribusi, sehingga ia dapat membawa pulang uang yang lebih banyak.
Motif serakah dan khawatir rugi ini menciptakan orang-orang yang kemudian disebut dengan free rider, yaitu yang menikmati keuntungan tanpa memiliki kontribusi terhadap mesin pencipta keuntungan itu sendiri. Contoh paling mudah adalah pajak. Pajak yang dikumpulkan dari para wajib pajak yang menyisihkan 10 – 35% pendapatannya dialokasikan untuk berbagai infrastruktur negara yang digunakan oleh semua orang, baik wajib pajak maupun non wajib pajak. Non wajib pajak disebut dengan free-rider. Makin banyak free-rider, maka makin banyak kontribusi yang harus dibayarkan oleh non-free-rider.
• Mental Accounting
Seorang lelaki sedang berada di Las Vegas (yang terkenal sebagai kota judi Amerika) untuk menghadiri seminar. Pada malam hari, ia pamit kepada teman sekamarnya untuk mencoba mesin-mesin di Las Vegas sebagai tambahan pengalaman karena tidak pernah menemukan mesin-mesin itu di Indonesia. Ia hanya membawa uang $5 dan menuju ke mesin jackpot. Pada percobaan pertama, mesin jackpot tersebut langsung “hit” dan memuntahkan $25 untuknya. Lelaki itu mencoba mesin-mesin jackpot lainnya, dan karena malam itu malam keberuntungannya, ia kembali “hit” di mesin-mesin lainnya dan berhasil mengumpulkan $2.500.
Kemudian ia mencoba peruntungannya di meja blackjack (permainan kartu) dan mempertaruhkan seluruh keberuntungannya sejumlah $2.500 di permainan pertama dan memenangkan $10.000. Begitu seterusnya sampai akhirnya ia menjadi $1.000.000 (satu juta dolar). Kemudian ia berpindah ke meja rolet dan kembali mempertaruhkan seluruh uangnya ($1 juta). Di meja itu, uangnya ludes dan ia kembali ke kamar hotelnya. Temannya bertanya, bagaimana keberuntungannya, dan jawabannya adalah, “Lumayan, aku kalah $5.”
Contoh di atas menunjukkan bahwa ketika jumlah uang tidak tertulis di kertas dan hanya tertulis pada “mental” seeorang, uang tersebut menjadi tidak bernilai.
Oprah’s Show – sebuah talkshow paling populer di Amerika – pernah menayangkan seorang pengemis yang menemukan uang $100.000. Sebagai orang yang telah bekerja keras dan memiliki uang, Oprah berpikir bahwa lelaki itu pasti akan menaruh uangnya di bank, mengambil bunganya setiap bulan dan hidup lumayan dengan bunga tersebut. Itu juga yang dipikirkan para penontonnya. Pengemis tersebut kemudian mengakui bahwa ia membeli dua buah mobil – satu untuk dirinya dan satu untuk istrinya – dan menghabiskan $70.000. Sisanya ia gunakan untuk pulang ke kampung halaman dan membagikannya kepada sanak saudara untuk menunjukkan bahwa akhirnya ia memiliki uang dan sanaknya tidak boleh menghinanya lagi. Dalam waktu kurang dari setahun, uang itu ludes berikut kedua mobilnya dan ia kembali mengemis di jalanan.
Suatu eksperimen menunjukkan bahwa ada perbedaan perilaku yang mencolok pada dua orang dari kelas ekonomi yang berbeda ketika menghadapi kenyataan bahwa mereka telah diberi uang “dadakan” dengan jumlah yang cukup besar, katakanlah Rp 10 juta. Orang yang memiliki gaji Rp 10 juta / bulan akan menabungkan uang tersebut atau menginvestasikannya dengan baik. Sebaliknya orang yang berpenghasilan Rp 500.000/bulan akan membelikan berbagai barang dan berakhir dengan kekayaan yang kurang dari sebelumnya. Orang kedua ini akan selalu merasa bahwa uang tersebut sangat banyak dan tidak akan habis berapapun ia mengeluarkannya, dan pada akhirnya ia menghabiskannya bahkan melebihi jumlah Rp 10 juta tersebut.
Pada kasus ini, faktor psikologis sangat menentukan kepada keputusan keuangan seseorang.
Keputusan keuangan individu secara garis besar memang tidak berbeda dengan keuangan perusahaan. Individu harus tetap menganggarkan uangnya, harus melakukan investasi, dan harus memutuskan kebijakan kredit yang paling sesuai.
Keputusan yang akhirnya diambil oleh individu kemudian berbeda dengan yang diambil oleh manajer keuangan karena individu lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis dan sosial. Di dalam berbagai teori pada tulisan ini ditemukan bahwa seorang individu dipengaruhi oleh keserakahan, kekhawatiran akan kerugian, ketakutan akan hukuman, serta pertimbangan bagaimana orang lain akan bertindak. Selain itu, nilai uang di dalam pikiran berbeda dengan nilai uang ketika dituliskan di atas kertas atau laporan keuangan. Nilai uang di dalam pikiran bersifat sangat fleksibel dan tidak mudah untuk memastikan bagaimana individu kemudian bereaksi atas jumlah tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar